Al Quran in Post
Player Al Quran ini dapat anda gunakan seperti winamp....,
player ini dilengakapi dengan terjemahan bahasa indonesia....
Player Al Quran ini dapat anda gunakan seperti winamp....,
player ini dilengakapi dengan terjemahan bahasa indonesia....
Di antara kesyukuran kita kepada Allah-azza wajalla- adalah, banyaknya gerakan Islam yang lahir dan tumbuh dengan cita-cita ingin mengembalikan izzul islam walmuslimin. Hanya saja, jarang yang betul-betul memulai usaha perbaikan ummat dari titik star yang tepat. Yang pasti, kesalahan dalam memulai sebuah usaha yang mulia ini akan berakibat fatal dalam perjalanan.
Kalau kita mencermati sierah (perjalanan hidup) Rasulullah, sejak awal bi’tsah sampai beliau wafat, maka kita melihat beliau, shallallahu ‘alaihi wasallam, memulai dakwahnya dari aqidah. Beliau memperkenalkan kepada masyarakat saat itu kepada siapa seharusnya mereka beribadah, untuk apa mereka hidup, bagaimana mereka berinteraksi dengan alam di sekitarnya dan kemana mereka menuju setelah meninggalkan dunia yang fana ini. Itulah aqidah!
Jika tujuan diibaratkan sebagai kiblat seorang muslim, yang menjadi orientasinya dalam beramal, maka aqidah ibarat motor penggeraknya. Aqidah inilah yang menjalankan dan mendorongnya maju ke arah tujuan dan menghalanginya jangan sampai berhenti, apalagi berpindah haluan. Jika aqidah ini hilang di hati atau pengarunya melemah, maka usahanya akan terhenti atau bahkan surut ke belakang. Aqidah bukan sekedar pengakuan yang terucapkan, bukan juga ilmu retorika yang digunakan untuk memperindah kata-kata.
Al-Qur’an mengingatkan dan menegaskan hakekat ini. Bahkan kitab yang mulia ini berulang-ulang menyebut perintah beramal shalih yang dikaitkan dengan iman. Penyebutan ini terdapat di banyak tempat dan sulit dihitung. Seringnya hal ini disebutkan merupakn isyarat nyata bahwa akidah harus mendampingi amal shalih, dan amal shalih harus menyertai akidah
Aqidah mempunyai dampak kongkrit yang harus dimunculkan secara jelas sebagai bukti kebenaran pengakuan iman. Jika tidak, itu hanya pengakuan tanpa indikasi yang membuktikan kebenaran atau kesungguhannya. Tidak sedikit ayat dalam al-Qur’an maupum sunnah Rasulullah yang menyebutkan bahwa iman tidak terpisahkan dari amal.
Allah berfirman, ”Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bahwa bagi mereka taman-taman surga yang dari bawah pepohonannya mengalir banyak anak sungai.” (Qs. Al-Baqarah: 25).
Dalam salah satu haditsnya Rasulullah bersabda, “Iman itu memiliki tujuh puluh atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Dan malu adalah sebagian dari iman.” (HR. Abu Dawud, an-Nasaa’i).
Dengan demikian tidak setiap orang yang mengaku beriman dengan lidahnya itu benar pengakuannya. Iman sesungguhnya mempunyai beberapa indikasi. Jika indikasi itu ada pada seseorang maka benarlah imannya, jika tidak maka pengakuannya dusta. Bagi mereka yang ingin meyakinkan diri tentang kebenaran hal ini handaklah ia memperhatikan dengan seksama perbedaan antara iman yang dibuktikan dengan amal dan sekedar pengakuan semata tanpa bukti yang membenarkannya maka, hendaklah ia melihat lembaran sejarah.
Salah satu halaman sejarah masa lampau itu adalah generasi para shahabat. Generasi yang diselamatkan dengan akidah Islam, diselamatkan dari noda syirik serta mencuci mereka dari berbagai roma kekafiran. Lalu akidah mereka menanamkan hakekat iman dan menyinarkan cahaya tauhid dalam hati mereka.
Jadi akidah adalah satu-satunya faktor yang berpengaruh dalam pembinaan, pembentukan generasi tersebut. Sungguh generasi ini telah mempesona kita agar berhenti sejenak membuka berbagai potret dan gambaran yang menunjukkan dampak dan pengaruh akidah dalam tarbiyah mereka. Mari kita memilih lembaran-lembaran itu mana yang kita inginkan. Apakah kita ingin berbicara tentang shahabat Muhajirin atau Anshar? Yang tua, muda, remaja atau tentang pria dan wanita? Atau apakah kita ingin potret mereka saat susah dan senang?
Ketika membaca lembaran sejarah mereka yang gemilang maka kita akan melihat bahwa mereka adalah prajurit yang berkuda di siang hari dan jika malam datang mereka adalah abid yang khusyu’ berdiri di atas sajadahnya. Jika kita berbicara tentang pengorbanan nereka adalah para penderma sejati mulai dari harta sampai nyawa sekalipun mereka korbankan demi tegaknya kalimat Allah ta’ala.
Maka dalam setiap potret itu, tanpa kecuali, akan tampak kebenaran iman. Darinya terpancar cahaya yang membuat setiap orang terpesona dan bertanya-tanya, “Apa yang membuat mereka seperti ini. Padahal mereka sebelumnya adalah ummat yang tidak diperhitungkan samasekali. Mereka tenggelam dalam kedunguan fanatisme suku, gemar perang, mengubur anak perempuan hidup-hidup, tapi dalam waktu yang singkat mereka menjadi ummat yang disegani dan diperhitungkan di dunia internasional?
Gambaran mereka seperti yang digambarkan Allah dalam al-Qur’an, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud[1406]. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu Kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”(al-Fath : 29)
[Maka itulah lembaran masa lalu kita dan bandingkan semua itu dengan realita ummat kita hari ini. Ummat kita, hari ini, tua dan mudanya tenggelam dalam kelalaian, persis seperti anak kecil yang disuruh menjaga rumah orang tuanya. Di saat pencuri datang dengan mudah ia ditipu dengan mainan. Padahal yang memberinya mainan adalah pencuri yang sebentar lagi akan menghabisi isi rumah.
Dan inilah kita, yang sudah dewasa dan mulai sadar bahwa kita telah ditipu oleh para pencuri. Isi rumah kita telah dijarah dan tak satupun yang tersisa. Kita ingin mengembalikan apa yang pernah kita miliki berupa kejayaan dan kebesaran. Maka inilah jalan kembali kita. Hendaklah kita bergegas dan memulai perbaikan ini seperti yang pernah lakukan oleh salafus shaleh. Kita wajib kembali kepada pemahaman mereka tentang Islam lalu memegang teguhnya. Pengorbanan, tekad, jihad, dan pengalaman generasi awal adalah modal utama dalam merintis proyek besar ini. Proyek tegaknya kalimat Laa ilaaha illallah dan kembalinya izzul islam walmuslimin. Wallahu Ta’ala a’lam.
Sumber : http://www.wahdah.or.id
Ini adalah sebuah kisah tentang semangat para hamba pemimpi surga. Sebab tabiat mimpi ini mengharuskan kita untuk terus berada dalam pusaran perubahan. Berubah dari yang baik ke arah yang semakin baik. Atau dalam bahasa yang sering kita dengarkan: “Hari ini jauh lebih baik dari yang kemarin”. Tidak sekedar berhenti pada: “Hari ini sama saja dengan yang kemarin”. Apalagi “Hari ini lebih buruk dari yang kemarin”.
Ibrahim al-Harby pernah bertutur tentang Imam Ahl al-Sunnah di zamannya, Imam Ahmad ibn Hanbal –semoga Allah merahmatinya-. Setelah bertahun-tahun lamanya Ibrahim al-Harby menyertai sang Imam, ia sampai pada sebuah titik untuk mengatakan: “Aku telah menyertai Ahmad ibn Hanbal selama 20 tahun lamanya(!), siang dan malam, di musim dingin dan semi, di musim panas maupun dingin, namun tidak sehari pun aku bersamanya, melainkan ia hari ini pasti lebih baik dari yang sebelumnya.”
Satu-satunya yang dapat kita pahami dari pitutur itu adalah: adanya sebuah proses change (perubahan) yang berkesinambungan dalam diri Sang Imam. Tidak dalam hitungan tahun, bulan atau minggu. Tetapi dalam hitungan hari! Ya, setiap hari selalu ada progress dan target tertentu dalam kehidupan Sang Imam untuk sampai pada titik kebaikan yang lebih tinggi dari sehari sebelumnya.
Sekarang marilah kita berbicara dalam tataran jamaah. Mungkin kita sudah sampai pada sebuah titik kesepakatan, bahwa kerja-kerja dakwah haruslah berjalan dalam sebuah proses sinergis keberjamaahan. Tapi sudah efektifkah keberjamaahan kita? Bersyukurlah kita jika keberjamaahan itu dibangun di atas manhaj yang haq: manhaj al-Salaf al-Shaleh. Tetapi tetap saja ada sunnatullah lain yang harus kita patuhi demi meraih kesuksesan kerja-kerja dakwah dalam bingkai keberjamaahan. Ini sama saja dengan sunnatullah korelasi prinsip keadilan dan keberhasilan sebuah negara yang pernah “digagas” oleh Ibnu Taimiyah beberapa abad yang lalu. Beliau pernah menegaskan bahwa sebuah negara yang kafir namun berkeadilan itu akan ditegakkan oleh Allah, sementara negara yang muslim namun tidak adil justru akan direndahkan oleh-Nya.
Intinya adalah bahwa keinginan untuk menjadi lebih baik sudah pasti menuntut kita untuk berubah. Dan kaitannya dengan kerja-kerja jamaah, perubahan itu sungguh berat untuk dilakukan. Mengapa? Karena melibatkan begitu banyak subjek sekaligus objek. Perubahan dalam sebuah jamaah harus berawal dari perubahan dalam tataran individu jamaah itu sendiri. Dan sudah tentu berawal dari mereka yang dianggap sebagai sang pemimpin.
Dalam Re-Code Your Change DNA (Rhenald.K, Februari 2007, hal. 18) disebutkan bahwa setidaknya ada 5 hal mendasar yang dibutuhkan untuk sebuah perubahan:
1. Vision, atau sebuah visi tentang masa depan. Apa jadinya sebuah jamaah yang tidak memiliki visi yang kuat tentang masa depannya? Para aktifisnya hanya dipacu bekerja dan bekerja, merespons semua yang ada secara reaktif tapi tidak efektif. Nampaknya dapat bekerja dengan cepat, tetapi sebenarnya tidak ada perubahan yang berarti selain pada pemimpinnya. Yang ada hanya sebuah kekacauan (confusion). Tidak ada kesatuan pikiran dan tindakan. Pancaran energi jamaah tidak terfokus, karena masing-masing komponen bergerak sendiri-sendiri tanpa arah dan visi yang seragam.
2. Skills, atau keterampilan untuk mampu melakukan tuntutan-tuntutan baru. Jenis keterampilan semacam ini harus ditumbuhkan. Jika sebuah jamaah tidak didukung oleh keterampilan yang memadai, maka yang adalah anxiety atau kecemasan-kecemasan. Sang pemimpin cemas akan kemampuan bawahan, sang bawahan cemas akan dirinya sendiri. Kecemasan semacam ini akan melahirkan stres, rumor (isu), kejengkelan, dan lain sebagainya. Untuk memperbaharui ini menjadi penting sekali untuk menanamkan “kode-kode perubahan” dalam kepala mereka.
3. Incentives, atau insentif yang memadai baik langsung maupun tidak langsung, cash atau non-cash. Perubahan menuntut pengorbanan, bahkan penderitaan. Tapi nyatanya ini sulit sekali diterapkan. Orang-orang seringkali bertanya: siapa yang harus berkorban? Menghapa harus saya? Apakah yang di atas juga siap berkorban? Tanpa adanya insentif, maka yang lahir adalah resistensi atau penolakan. Tuntutan perbaikan kinerja jamaah harus sejalan dengan perbaikan insentif mereka. Apakah ini berarti kerja jamaah harus berpikir ala perusahaan profesional? Mungkin ini poin yang harus direnungkan. Yang pasti antara keikhlasan berjuang dan profesionalisme bukanlah dua hal yang paradoks atau bertentangan.
4. Resources, atau sumber daya yang memudahkan perubahan dan pertumbuhan jamaah.
5. Action Plan, atau rencana tindakan. Ketika berbicara tentang rencana, kita mungkin sering hanya terjebak dalam “rencana strategis” dan melupakan “rencana tindakan” atau rencana yang berorientasi pada action kita. Jika dalam rencana strategis kita menetapkan arah dan tujuan jangka panjang, maka dalam rencana tindakan kita harus menulis perincian sasaran, waktu serta sumberdaya yang dibutuhkan. Ingatlah satu hal: kalau Anda gagal membuat rencana tindakan, maka Anda sedang merencakan untuk gagal!
Yang pasti adalah bahwa perubahan ke arah yang lebih baik menuntut pembelajaran yang berkelanjutan. Buka mata. Buka hati. Buka pikiran.
All people have brain, but only few use their brain. Semua orang memiliki otak, namun hanya sedikit yang menggunakan pikiran mereka.
Terakhir, sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum jika mereka merubah keadaan mereka sendiri.
Kolom Waqfah Majalah Al Bashirah
Shalat adalah salah satu rukun Islam yang terpenting setelah Syahadatain. Shalat juga memiliki kedudukan yang agung dalam Islam. Mengapa demikian? Setidaknya karena beberapa alasan:
1. Perintah shalat diterima langsung oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam di langit ke tujuh dalam peristiwa Isra' dan mi'raj
Ketika Allah Subhaanahu Wata'ala menetapkan suatu syariat, maka Allah Subhaanahu Wata'ala menurunkan wahyu-Nya kepada Rasul-Nya melalui perantaraan Jibril. Zakat misalnya, Allah Subhaanahu Wata'ala menurunkan firman-Nya berisi perintah membayar zakat, yang artinya, "Dan tunaikanlah zakat…" (QS. Al Baqarah: 43).
Demikian pula puasa, haji, dan ibadah-ibadah lainnya.
Berbeda dengan shalat, Allah Subhaanahu Wata'ala tidak cukup hanya dengan menurunkan firman-Nya berisi perintah shalat, tapi lebih dari itu. Allah Subhaanahu Wata'ala memanggil langsung Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam untuk menerima perintah shalat tersebut. Hal ini, menunjukkan keutamaan dari ibadah shalat jika dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya.
2. Dalam kondisi apa pun, shalat tidak boleh ditinggalkan
Betapa pun sibuknya Anda, dan parahnya penyakit Anda—selama masih sadarkan diri, shalat tetap harus ditegakkan. Bedanya dengan ibadah lain, zakat misalnya, ketika Anda tidak memiliki harta yang cukup nishabnya, maka Anda tidak wajib membayar zakat. Puasa, tidak diwajibkan bagi orang yang sakit. Haji, bisa jadi Anda memiliki harta yang cukup untuk bekal perjalanan ke tanah suci, tapi Anda sakit, maka Anda pun tidak wajib haji. Atau sebaliknya, badan Anda sehat, tapi Anda tidak memiliki harta yang cukup, maka Anda pun tidak wajib mengerjakan ibadah haji.
Adapun shalat, kita diperintahkan untuk mengerjakannya dengan berdiri. Namun ketika kita sakit dan tak mampu berdiri, maka shalat boleh sambil duduk. Jika duduk pun tidak mampu, maka boleh dengan berbaring, dan seterusnya.
3. Amalan yang paling pertama dihisab
Bayangkan, Anda berpuasa, membayar zakat, lima kali haji, membangun banyak masjid, menyantuni fakir miskin, tapi Anda melalaikan shalat. Maka apa jadinya?
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، إِذَا صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِذَا فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ
“Sesungguhnya amalan yang paling pertama dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka ia telah beruntung dan selamat. Tapi jika shalatnya rusak, maka ia telah binasa dan merugi”.(HR. Tirmidzi dan Nasa’i).
4. Wasiat Terakhir Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam
Pesan-pesan terakhir dari orang yang akan meninggal dunia biasanya berisi wasiat-wasiat yang sangat penting yang disampaikan kepada kerabat dekatnya. Dan ternyata, wasiat terakhir dari Nabi kita adalah perintah menjaga shalat.
Saat itu, menjelang wafat beliau, dari atas pembaringan, beliau berwasiat kepada seluruh umatnya,
الصَّلاَةَ الصَّلاَةَ
"Jagalah shalat! Jagalah shalat!" (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Yah, junjungan kita telah berwasiat kepada kita untuk menjaga shalat. Namun sayang, manusia meremehkannya.
Inilah beberapa alasan yang menunjukkan keagungan shalat dalam Islam. Dan masih ada banyak ayat dan hadits yang menunjukkan hal tersebut.
Namun demikian, banyak yang tidak peduli. Mereka berkata, meninggalkan shalat itu perkara biasa. Hal sepele. Dosa kecil. Nyatanya, di mana-mana banyak orang meninggalkan shalat, tapi rejeki mereka tetap mengalir.
Benarkah demikian? Beginilah Allah Subhaanahu Wata'ala berkata tentang mereka—yang meremehkan shalat:
1. Meninggalkan shalat sama dengan syirik
Allah Subhaanahu Wata'ala berfirman, artinya,
“Dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (QS. Ar-Rum: 31).
Dalam ayat ini, Allah Subhaanahu Wata'ala menyamakan antara orang yang meninggalkan shalat dengan pelaku kesyirikan. Mengapa demikian? Orang musyrik lebih mendahulukan selain Allah Subhaanahu Wata'ala. Sama dengan orang yang meninggalkan shalat. Mereka mendengar adzan, hayya ‘alash-shalah, hayya ‘alal falah. Tapi mereka tidak bergeming. Mereka tetap meneruskan pekerjaan. Tidak beranjak dari hadapan televisi. Tidak pula meninggalkan pembaringan. Seolah-olah semua itu lebih besar, lebih agung, dan lebih pantas untuk didahulukan daripada Allah Subhaanahu Wata'ala.
Maka kita mesti berhati-hati dari meninggalkan shalat, karena itu sama dengan syirik. Padahal, syirik adalah dosa yang paling besar. Jika pelakunya meninggal sebelum sempat bertobat, maka dia terjatuh dalam bahaya yang sangat besar. Allah Subhaanahu Wata'ala berfirman, artinya:
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al Maidah: 72).
2. Allah Subhaanahu Wata'ala berfirman dalam surah Maryam: 59, artinya, “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya. Maka mereka kelak akan menemui kesesatan.”
Ibnu Abbas رضي الله عنهما dalam menafsikan ayat tersebut berkata, “Bukanlah maknanya menyia-nyiakan shalat yaitu meninggalkan shalat secara keseluruhan, akan tetapi mereka mengakhirkan dari waktunya.”
Demikian pula komentar Sa’id Ibnu Al Musayyib رحمه الله , “Ia tidak shalat Dzuhur kecuali setelah masuk waktu Ashar. Tidak shalat Ashar hingga masuk waktu Magrib. Tidak shalat Magrib hingga masuk waktu Isya. Tidak shalat Isya hingga masuk waktu Fajar. Dan tidak shalat Fajar kecuali setelah terbit matahari.”
Lalu apa balasan bagi orang yang menyia-nyiakan shalat?
Dalam ayat tersebut disebutkan, “Maka mereka akan menjumpai al ghay”. Di antara tafsiran al ghay adalah lembah di neraka Jahannam yang berisi nanah para penghuni neraka.
Bayangkan, sekadar mengulur waktu shalat sudah diancam dengan al ghay. Bagaimana pula dengan orang yang sama sekali tidak shalat?
3. Kelak di akhirat, orang yang meninggalkan shalat tidak akan mampu bersujud di hadapan Allah Subhaanahu Wata'ala, ketika semua orang mukmin bersujud.
Allah Subhaanahu Wata'ala berfirman, artinya, “Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa. (Dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.” (QS. Al Qalam: 41-42).
Ketika semua manusia dikumpulkan di akhirat, dari yang paling pertama diciptakan, hingga yang paling akhir diwafatkan. Maka semua orang mukmin bersujud. Tapi orang-orang kafir, munafik, demikian pula orang yang meninggalkan shalat, tidak mampu bersujud. Apa sebab? Dalam ayat di atas disebutkan, karena mereka di dunia telah diseru untuk bersujud, tapi mereka enggan. Padahal mereka dalam keadaan aman. Tidak ada yang menghalangi mereka untuk shalat. Maka Allah menghinakan mereka dengan tidak mampu bersujud di hadapan-Nya.
4. Dalam surah Al Baqarah ayat 34, Allah Subhaanahu Wata'ala berfirman, artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kamu kepada Adam!" Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”
Menurut Anda, apa yang menyebabkan Iblis terusir dari surga dan ditetapkan jadi penghuni neraka? Karena pembangkangannya untuk bersujud—sebagai penghormatan, bukan untuk menyembah—kepada Adam.
Lalu bagaimana dengan kita? Kita tidak diperintahkan untuk bersujud kepada Adam Alaihissalam, tapi kepada Zat Pencipta Adam, Allah Subhaanahu Wata'ala. Lalu manakah yang lebih berat konsekuensi penolakan Iblis untuk bersujud kepada Adam, ataukah penolakan kita untuk bersujud kepada Allah Subhaanahu Wata'ala?
“Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan.” (QS. Al Hasyr: 2).
Dan masih banyak ayat Allah Subhaanahu Wata'ala dalam Al Qur’an yang berbicara tentang ancaman bagi orang-orang yang meninggalkan shalat.
Lalu apa pula kata Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tentang mereka? Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pun telah memberikan peringatan-peringatan keras dalam banyak hadits beliau.
Maka sebagai Muslim yang benar-benar beriman, hendaknya senantiasa menjaga shalat dengan baik dan takut akan ancaman Allah Subhaanahu Wata'ala. Jangan sampai pengakuan kita sebagai Muslim hanyalah bertepuk sebelah tangan, seperti yg dikatakan penyair,
كُلٌّ يَدَّعِيْ وَصْلاً بِلَيْلَى وَلَيْلَى لاَ تُقِرُّ لَهُمْ بِذَاكَ
“Setiap orang mengakui punya hubungan dengan Laila, akan tetapi Laila tidak pernah mengakuinya”.
Semua orang mengaku beriman kepada Allah Subhaanahu Wata'ala. Berislam dengan benar. Tapi apakah Allah Subhaanahu Wata'ala mengakui keimanan mereka? Sementara mereka lalai melaksanakan perintah-Nya, shalat lima waktu. Bahkan mungkin di antara kaum Muslimin ada yang bertetangga dengan masjid dan mendengarkan adzan dikumandangkan lima kali dalam sehari semalam, namun hatinya tidak tersentuh untuk memenuhi panggilan Allah. Lalu kemudian mengaku sebagai Muslim yang taat. Layakkah pengakuan itu diterima?
Wallahu Waliyyut Taufiq (Buletin Al Fikrah No.04 Tahun X/26 Muharram 1430 H)
Oleh:Ilham Jaya Abdurrauf
Benarkan ajaran Islam telah memberi pedoman atau dasar-dasar pelestarian dan pengelolaan lingkungan? Secara keimanan, jawabnya tentu: ya. Sebab ajaran Islam adalah ajaran penutup yang berlaku hingga akhir zaman. Prinsip ini memestikan ajaran Islam memiliki jawaban terhadap semua persoalan kemanusiaan, sejak dia pertama kali diturunkan hingga kiamat kelak.
Tapi, pernahkan kita membaca secara langsung bagaimana sumber-sumber ajaran Islam berbicara tentang persoalan lingkungan itu? Berikut ini sekelumit kutipan dari ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits serta atsar yang baik secara langsung atau tidak berkaitan dengan lingkungan.
Perintah berlaku ihsan (baik) kepada segala sesuatu
عن شداد بن أوس قال : ثنتان حفظتهما عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : إن الله كتب الإحسان على كل شيء فإذا قتلتم فأحسنوا القتلة وإذا ذبحتم فأحسنوا الذبح وليحد أحدكم شفرته فليرح ذبيحته . (رواه مسلم)
Dari Syaddad bin Aus berkata, “Ada dua hal yang aku hapal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata, ‘Sesungguhnya Allah mewajibkan berlaku ihsan kepada segala sesuatu. Bila kalian membunuh (seperti binatang berbahaya), bunuhlah dengan cara yang baik. Bila kalian menyembelih binatang, sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaknya seorang dari kalian mengasah pisaunya dan memberi kemudahan kepada sembelihannya.
Merusak lingkungan merupakan salah satu sifat orang munafik
قال الله تعالى : وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الْفَسَادَ . (البقرة : 205)
“Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan”
Larangan terhadap perbuatan yang dapat menimbulkan mudharat/merugikan orang lain
عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : لا ضرر ولا ضرار .
(رواه أحمد وعبد الرزاق في المصنف وصححه الألباني في الصحيحة : 250)
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak boleh menimbulkan kemudharatan atau membalas kemudharatan dengan kemudharatan.”
Menanam tumbuhan yang bermanfaat sama dengan bersedekah
عن أنس رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من مسلم يغرس غرساً ، أو يزرع زرعاً ، فيأكل منه طير أو إنسان أو بهيمة ، إلا كان له به صدقة . (رواه البخاري ومسلم)
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak seorang pun muslim yang menanam tumbuhan atau bercocok tanam, kemudian buahnya dimakan oleh burung atau manusia atau binatang ternak, kecuali yang dimakan itu akan bernilai sedekah untuknya.”
عن أنس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : إذا قامت الساعة ، وبيد أحدكم فسيلة ، فإن استطاع أن لا يقوم حتى يغرسها فليفعل . (رواه أحمد وقال الألباني : وهذا سند صحيح على شرط مسلم)
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika kiamat telah terjadi dan di tangan seorang dari kalian memegang bibit korma, bila dia dapat untuk tidak meniggalkan tempatnya sebelum dia menanam bibit itu, maka hendaknya dia lakukan.”
Berbuat baik kepada setiap makhluk bernyawa bernilai pahala
عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : بينما كلب يطيف بركية قد كاد يقتله العطش إذ رأته بغي من بغايا بني إسرائيل فنزعت موقها فاستقت له به فسقته إياه فغفر لها به . (متفق عليه)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Dulu ada seekor anjing yang hamper mati karena kehausan mengelilingi sebuah sumur. Tiba-tiba seorang wanita pelacur Bani Israil melihat anjing itu. Maka wanita pelacur itu melepas sepatunya, mengambil air (dari dalam sumur) dengan sepatunya itu dan memberi minum anjing tersebut. Wanita pelacur tersebut diampuni dosanya (oleh Allah) dengan perbuatannya itu.”
Mengoptimalkan manfaat lahan bernilai pahala, dan setiap bagian yang dinikmati dari hasil lahan tersebut adalah sedekah
عن جابر رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: من أحيا أرضاً ميتة فله أجر، وما أكلت العافية (كل طالب رزق آدمياً كان أو غيره) منها فهو له صدقة . (رواه أحمد وصححه الألباني)
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mengolah tanah mati, dia mendapatkan pahala. Apapun yang dimakan oleh makhluk hidup dari hasil olahannya bernilai sedekah bagi dia.”
Menjaga kebersihan fasilitas publik bagian dari iman, menghapus dosa dan dapat menjadi sebab masuk surga
عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : الإيمان بضع وسبعون شعبة ، فأفضلها قول لا إله إلا الله ، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق ، والحياء شعبة من الإيمان . (رواه البخاري ومسلم)
Dari Dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Iman itu terdiri dari tujuh puluh sekian cabang. Yang terutama adalah ucapan Laa Ilaaha illallaah (Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah) dan yang paling rendah adalah menyingkirkan kotoran dari jalanan. Sikap malu adalah salah satu cabang dari iman.”
عن معقل بن يسار قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : من أماط أذى من طريق المسلمين كتبت له حسنة ، ومن تقبلت منه حسنة دخل الجنة . (رواه الطبراني في المعجم، والبخاري في الأدب المفرد وحسنه الألباني)
Dari Ma’qal bin Yasar berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang menyingkirkan kotorang dari jalanan kaum muslimin, perbuatannya dicatat sebagai satu kebaikan. Barangsiapa yang diterima darinya satu kebaikan, ia akan masuk surga.”
عن أبي ذر عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : عرضت علي أعمال أمتي حسنها وسيئها فوجدت في محاسن أعمالها الأذى يماط عن الطريق ووجدت في مساوئ أعمالها النخاعة تكون في المسجد لا تدفن . (رواه مسلم)
Dari Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ditampakkan kepadaku amalan umatku, yang baik dan yang buruk. Aku dapati di antara amal baik ialah kotoran yang disingkirkan dari jalan. Dan aku dapati di antara amalan yang jelek ialah air liur yang buang di mesjid dan tidak ditimbuni (tanah).”
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : بينما رجل يمشي في الطريق إذ وجد غصن شوك ، فأخره فشكر الله له فغفر له . (متفق عليه)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dulu ada seorang laki-laki yang jalan di sebuah jalan. Tiba-tiba dia melihat ranting pohon berduri. Dia singkirkan ranting itu maka Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.”
Larangan menyiksa binatang
عن عبد الله بن عمر أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : عذبت امرأة في هرة سجنتها حتى ماتت فدخلت فيها النار لا هي أطعمتها وسقتها إذ هي حبستها ولا هي تركتها تأكل من خشاش الأرض . (رواه مسلم)
Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seorang wanita diadzab karena seekor kucing. Ia mengurung kucing itu sampai mati, maka wanita tersebut masuk neraka. Dia tidak memberi kucing itu makan dan minum, karena dia mengurungnya. Dia tidak juga melepaskan kucing itu agar dapat makan serangga tanah.”
عن ابن عمر رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : لعن الله من اتخذ شيئاً فيه الروح غرضاً . (متفق عليه)
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran (seperti panah atau tembak).”
Larangan mencemari lingkungan
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : اتقوا اللاعنين . قالوا : وما اللاعنان ؟ قال : الذي يتخلى في طريق الناس أو في ظلهم . (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jauhilah dua perbuatan yang mendatangkan laknat!” Sahabat-sahabat bertanya, ”Apakah dua perbuatan yang mendatangkan laknat itu?” Nabi menjawab, “Orang yang buang air besar di jalan umum atau di tempat berteduh manusia.”
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : لا يبولن أحدكم في الماء الدائم الذي لا يجري ثم يغتسل فيه . (رواه البخاري ومسلم)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah seorang dari kalian kencing di air tenang yang tidak mengalir kemudian mandi di dalamnya.”
Kecaman bagi yang hidup boros
عن أبي نعامة أن عبد الله بن مغفل سمع ابنه يقول : اللهم إني أسألك القصر الأبيض عن يمين الجنة إذا دخلتها . فقال أي بني ، سل الله الجنة وتعوذ به من النار . فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : إنه سيكون في هذه الأمة قوم يعتدون في الطهور والدعاء . (رواه أبو داود وصححه الألباني)
Dari Abu Nu’amah bahwa Abdullah bin Mughaffal mendengar anaknya berdoa, “Ya Allah, aku mohon diberi istana putih di sebelah kanan surga bila aku masuk surga.” Maka Abdullah berkata, “Wahai anakku, mintalah surga kepada Allah dan berlindunglah kepadanya dari neraka. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya akan ada pada umat ini sekelompok orang yang berlebih-lebihan dalam bersuci dan berdoa.”
Larangan merusak lingkungan
قال أبو بكر رضى الله عنه لما بعث الجنود نحو الشام : . . . ولا تغرقن نخلا ولا تحرقنها ولا تعقروا بهيمة ولا شجرة تثمر ولا تهدموا بيعة ولا تقتلوا الولدان ولا الشيوخ ولا النساء . (رواه البيهقي في السنن)
Abu Bakar radhiyallahu ’anhu berpesan ketika mengirim pasukan ke Syam, ” . . . dan janganlah kalian menenggelamkan pohon korma atau membakarnya. Janganlah kalian memotong binatang ternak atau menebang pohon yang berbuah. Janganlah kalian meruntuhkan tempat ibadah. Janganlah kalian membunuh anak-anak, orang tua dan wanita.”
- Perintah untuk memanfaatkan barang yang masih bisa digunakan
عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه و سلم مر بشاة ميتة فقال : هلا استمتعتم بإهابها ؟ قالوا : إنها ميتة . قال : إنما حرم أكلها . (متفق عليه)
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ’anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati bangkai seekor kambing. Beliau berkata, “Tidakkah kalian memanfaatkan kulitnya?” Sahabat-sahabat menjawab, “Tapi kambing ini bangkai.” Nabi bersabda, “Yang diharamkan dari kulit bangkai itu hanyalah memakannya.”
Perintah untuk menjaga kelangsungan hidup seluruh makhluk dari ancaman kepunahan
عن عبد الله بن مغفل قال : إني لممن يرفع أغصان الشجرة عن وجه رسول الله صلى الله عليه و سلم وهو يخطب فقال : لولا أن الكلاب أمة من الأمم لأمرت بقتلها فاقتلوا منها كل أسود بهيم . وما من أهل بيت يرتبطون كلبا إلا نقص من عملهم كل يوم قيراط إلا كلب صيد أو كلب حرث أو كلب غنم . (رواه الترمذي وحسنه)
Dari Abdullah bin Mughaffal berkata, ”Sesungguhnya aku di antara yang menyingkirkan ranting pohon yang menghalangi wajah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam ketika satu waktu beliau berkhutbah. Beliau berkata, ’Andaikata anjing itu bukan sebagai satu umat dari umat-umat yang ada, akan aku perintahkan untuk membunuh semua anjing. Bunuhlah anjing yang hitam legam. Tidaklah sebuah keluarga mengikat anjing kecuali akan berkurang dari pahala amal mereka dua qirath setiap hari, kecuali untuk anjing berburu atau anjing penjaga kebun atau anjing penjaga ternak kambing.”
Contoh pemeliharaan keanekaragaman binatang dalam kisah Nabiyullah Hud ’alaihis salam
التفسير الميسر ، مجمع الملك فهد - (ج 4 / ص 21)
{ حَتَّى إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آمَنَ وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلا قَلِيلٌ (40) }
حتى إذا جاء أمرنا بإهلاكهم كما وَعدْنا نوحًا بذلك ، ونبع الماء بقوة من التنور - وهو المكان الذي يخبز فيه - علامة على مجيء العذاب ، قلنا لنوح: احمل في السفينة من كل نوع من أنواع الحيوانات ذكرًا وأنثى، واحمل فيها أهل بيتك، إلا مَن سبق عليهم القول ممن لم يؤمن بالله كابنه وامرأته ، واحمل فيها من آمن معك من قومك ، وما آمن معه إلا قليل مع طول المدة والمقام فيهم.
”Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman." Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (QS. Huud/11: 40)
Larangan memotong tumbuhan tanpa alasan yang jelas
عن عبد الله بن حبشي قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من قطع سدرة صوب الله رأسه في النار . (وراه أبو داود وصححه الألباني) .
سئل أبو داود عن معنى هذا الحديث ، فقال : هذا الحديث مختصر يعني من قطع سدرة في فلاة يستظل بها ابن السبيل والبهائم عبثا وظلما بغير حق يكون له فيها صوب الله رأسه في النار .
Dari Abdullah bin Habasyi berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Barangsiapa yang menebang sebatang sidr (sejenis pohon obat), Allah akan menundukkan kepalanya di dalam neraka.”
Imam Abu Dawud ditanya tentang makna hadits ini. Abu Dawud berkata, ”Hadits ini singkat. Artinya, barangsiapa yang menebang pohon sidr yang biasa dipakai berteduh musafir atau binatang di padang pasir, tanpa alasan yang jelas atau secara aniaya, Allah akan menundukkan kepalanya di neraka.”
Perintah untuk mematikan lampu untuk menghindari kebakaran
عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : خمروا الآنية وأجيفوا الأبواب وأطفئوا المصابيح فإن الفويسقة ربما جرت الفتيلة فأحرقت أهل البيت . (رواه البخاري)
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tutuplah bejana-bejana dan pintu-pintu (rumah). Matikanlah lampu-lampu. Bisa jadi tikus kecil membawa anak api sehingga membakar seluruh penghuni rumah.”
Nah, setelah membaca kutipan-kutipan di atas, semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba yang berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): ‘Berimanlah kamu kepada Tuhanmu’, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.” (QS. Aali ‘Imran/3: 193)***
“Biasa Wae!” begitu kata seorang teman. Kalau dibahasaIndonesiakan, artinya kurang lebih “Biasa Sajalah!”. Kata biasa sebenamya biasa biasa saja seperti kata-kata yang lain. Namun akan terdengar menggelitik bila. Dikaitkan dengan konteks kata tersebut diucapkan ketika ada seorang teman yang melakukan pesta pernikahan dengan tata cara Islami banyak orang yang tidak setuju. "Mbok, yang biasa saja!"
Yang mereka maksudkan adalah agar pesta pernikahan diselenggarakan sesuai adat kebiasaan, yang bercampur di dalamnya kemaksiatan, pemborosan, bahkan sampal kepada kesyirikan (wa na’udzu billah). Hal itu bisa berarti pengantin wanita yang membuka aurat, campur baur tamu laki laki dan perempuan, prosesi menginjak telur, memberi sesaji ke tempat keramat di desa, dan hal-hal lainnya. Inikah yang dikatakan oleh sebaglan orang sebagai 'biasa’?
Demikian juga ketika ada seorang muslim yang mencoba berislam secara baik, melaksanakan sunnah dan meninggalkan perbuatan bid’ah. Yang anehnya sebagian orang malah bilang, “Mbok berislam yang biasa saja”.
Bila yang dimaksud berislam secara biasa adalah berislam sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah dan yang diamalkan oleh para sahabat nabi maka hal ini benar. Namun bila yang dimaksud, dengan biasa adalah Islam yang dilaksanakan secara ‘asal-asalan’ atau ‘berlebih-lebihan’ maka ini tentu tidak benar. Karena tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah.
Islam ‘asal-asalan’ adalah berislam sesuai kehendak hawa nafsu. Pilah pilih mana`syariat yang enak menurut hawa nafsunya, jika selera cocok atau klop maka itulah yang dilaksanakan. Sedangkan, syariat yang terlihat berat menurut kaca mata nafsu itulah yang ditolak. Karena kalau sudah menurut hawa nafsu, kebenaran dan dalil kebenaran tidaklah penting. Yang paling pokok adalah hawa nafsu oke dan terpuaskan, masyarakat cocok.
Ada juga yang berislam secara berlebih lebihan. lngin tambah keren dalam ibadah dengan menambah serta memodifikasi ibadah (kaya’ Suzuki Inovasi Tiada Henti…) dan akhirnya terjerumus didalam bid’ah.
Dan ada juga yang menapaki front yang keras dalam beragama. Setelah menapaki tahap-tahap ‘kelebihan’ akhirnya mereka sampai kepada mengkafirkan kaum muslimin yang tidak sekelompok dengan mereka. Tentu hal ini juga menyelisihi sunnah, karena kita diperintahkan didalam Al Qur’an QS. Ali Imran : 159 dan QS. An Nahl : 125 agar penuh hikmah didalam berda’wah. Gara gara pemahaman begini mereka tidak segan menjarah kehormatan saudaranya sesama muslim dan bahkan ada yang sampai membunuh orang yang tak sepaham, padahal hanya masalah yang bersifat itjitihadiyah.
Berislam yang benar adalah berislam dengan mengikuti jejak Rasulullah saw dan para sahabatnya serta orang-orang yang konsisten didalam mengikuti sunnah. Lalu bagaimana jika kita sudah berusaha mengikuti jalan yang lurus itu, tetapi ternyata masih ada orang yang benci dan itu pasti masih menganggap kita aneh? Maka jawabnya, ‘Ah, itukan biasa saja !!’.
Diketik dari Majalah el-fata.vol.06.No.01/2006.hal.01 dengan sedikit perubahan redaksi
Judul Asli : Shifatu Shalaatin Nabiyyi minat Takbiiri ilat Tasliimi Ka-annaka Taraaha
Iman adalah sumber kekuatan seorang Muslim. Kalau iman kuat maka seorang Muslim akan kuat. Sebaliknya jika iman lemah maka ia pun akan lemah. Karena itu merawat iman adalah agenda harian seorang Muslim. Seorang Muslim tidak melewatkan hari-harinya kecuali di sana ada aktifitas merawat iman.
Pembaca budiman berikut ini beberapa kiat bagaimana agar iman kita selalu fit
Pertama, Selalu Menyimak al-Qur’an
Al-Qur’an adalah penerang kegelapan bahkan obat bagi semua penyakit. Dengan menyimak bacaannya iman akan kuat dan selalu dalam keadaan fit. Dan inilah yang dilakukan oleh Rasulullah. Beliau menyimak al-Qur’an dan membacanya berulang kali, tatkala beliau sedang shalat malam. Sehingga pada suatu malam ketika shalat, beliau pernah mengulang-ulang satu ayat saja, dan tidak beralih dari ayat tersebut sampai masuk waktu fajar. Yaitu firman Allah:“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sungguh mereka adalah hamba-hambaMu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sungguh Engkau Maha Perkasa lagi maha Bijaksana”. (al-Maidah: 188)
Para shahabat beliau juga seperti itu. Mereka membaca, menyimak dan merenungkan bacaan al-Qur’an sampai mereka menangis tersedu-sedu. Al-Imam Ibnu Katsir menyebutkan sebuah riwayat dalam kitab tafsirnya, bahwa Abu Bakar as-Shiddiq adalah orang yang lembut, belas kasih dan hatinya mudah tersentuh jika mengimami jamaah shalat. Bisa dipastikan khalifah Rasulullah ini menangis bila ia berdiri menjadi imam. Begitu pula Umar bin Khatthab. Bahkan shahabat yang bergelar al-Faruq ini pernah sakit beberapa waktu lamanya karena firman Allah, “Sesungguhnya adzab Rabbmu pasti terjadi, tak seorang pun yang dapat menolaknya” .
Kedua, Merenungkan Keagungan Allah ‘Azza waJalla
Banyak ayat dalam al-Qur’an begitu juga hadits-hadit Rasululah tentang keagungan Allah. Jika seorang muslim memperhatikan nas-nas tersebut, maka tentu hatinya akan bergetar dan jiwanya akan tunduk dan khusyu’ pada Dzat yang Maha Agung.
Ketika Nabi Musa meminta pada Allah agar ia bisa melihatNya. Ia berkata kepada Musa melalui firmanNya:“Kamu sekali-kali tidak akan bisa melihatku, tapi lihatlah gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya maka kamu dapat melihatku. Tatkala Allah menampakkan dirinya pada gunung tersebut maka hancurlah gunung itu dan Musa pun jatuh pingsan.” (al-A’raf: 143)
Saat menafsirkan hadits ini Rasulullah bersabda, sambil memberi isyarat dengan tangan beliau dan berkata, “Seperti ini” sambil meletakkan ujung ibu jarinya pada sendi jari kelingkingnya yang atas lalu beliau berkata, “lalu gunung itu pun tenggelam”. Maksudnya, gunung itu tidak tampak lagi kecuali seukuran yang diisyaratkan oleh beliau.
Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda, “Allah menggenggam bumi pada hari kiamat dan melipat langit dengan tangan kananNya lalu berfirman, Aku adalah raja, mana raja-raja bumi ” (HR. Bukhari).
Nash-nash tentang masalah ini sangat banyak. Tujuannya membangkitkan perasaaan agung akan kekuasaan Allah dan dengan itu hati menjadi lembut. Jika hati lembut maka ia mudah menerima hidayah dari Allah. Dengan itu pula ia peka dengan berbagaio kemungkaran yang terjadi di sekitarnya. Dengan begitu ia bersemangat melakukan ketaatan dan sedih dengan berbagai penyimpangan-penyimpangan.
Ketiga, Mencari ilmu Syar’i
Ilmu syar’i yang kita inginkan di sini adalah ilmu yang membangkitkan rasa takut pada Allah dan menambah bobot iman sebagaimana firman Allah:“Sesungguhnya yang takut pada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah orang-orang yang berilmu” (Qs. Faathir: 28).
Dalam kaitannya dengan iman ini, orang yang mengetahui tidak bisa disamakan dengan orang yang tidak mengetahui. Bagaimana mungkin orang yang mengetahui perkara-perkara syari’at, makna syahadat disamakan dengan orang-orang yang tidak mengetahuinya? Bagaimana mungkin menyamakan orang yang mengetahui kejadian sesudah mati, alam barzakh, padang mahsyar, siksa neraka, nikmat surga, hikmah di balik syari’at, hal-hal yang halal dan haram, dipersamakan dengan orang-orang yang tidak mengetahui semua itu? “Samakah orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Qs.az-Zumar: 9).
Dengan demikian jelas ilmu syar’i di antara hal yang dapat menambah dan menguatkan iman. Betapa tidak dengan inilah seorang Muslim diantar mengenal Allah dengan sebenar-benar pengenalan. Dari sinilah lahir rasa takut, harap dan cinta pada Allah.
Keempat, Menggiatkan Berbagai Bentuk Ibadah.
Di antara rahmat Allah pada kita semua adalah Dia mensyari’atkan pada kita berbagai macam ibadah. Di antaranya ada ibadah fisik seperti shalat, ada ibadah lisan seperti dzikirdan do’a, apa ibadah hati seperti tawakkal, redha, khauf, dan raja’ bahkan ada ibadah yang memadukan ketiga-tiganya seperti ibadah haji. Ditinjau dari sifatnya ada ibadah yang wajib, sunnah dan anjuran. Yang wajib pun dibagi lagi dalam beberapa jenis; wajib kifayah dan wajib ’aini .Begitupun yang sunnah. Shalat misalnya, ada yang rawatib sebanyak dua belas rakaat sebelum dan sesudah shalat fardhu. Ada yang lebih sedikit bobotnya seperti empat rakaat sebelum Ashar dan dua rakaat sebelum shubuh. Ada juga shalat yang lebih tinggi bobotnya dari itu yaitu shalat lail. Dari ragam pelaksanaannya, ada yang dikerjakan dengan dua-dua rakaat atau empat-empat rakaat setelah itu ditutup dengan witir; satu, tiga, lima, tujuh, atau sembilan rakaat dengan satu tasyahud.
Dengan begitu, setiap orang bisa melihat kondisinya. Jika kondisi iman lagi fit maka ia bisa mengerjakan banyak macam ibadah beserta berbagai ragam pelaksanaannya. Jika ia merasa dirinya lagi futur (letih dan tidak semangat) maka ia bisa memilih jenis ibadah yang ringan. Ini semua ada hikmah Allah di balik semua itu agar kita senantiasa dalam kondisi ibadah dan ibadah itu sesederhana bagaimana pun pasti akan memberi pengaruh pada iman.
Kelima, Banyak Mengingat Mati.
Kematian adalah pintu perpindahan alam yang pasti dilalui oleh setiap manusia. Setiap kita tidak ada yang tahu bagaimana kelanjutan nasibnya di alam yang baru itu. Di sana ada huru hara, ada fitnah, ada pertanyaan yang dihadapkan kepada setiap kita. Itulah sebabnya Rasulullah bersabda, ”Perbanyaklah mengingat penghalau kelezatan, yaitu kematian”.(HSR. Tirmidzi)
Mengingat mati bisa mendorong seseorang menghindari berbagai kedurhakaan. Tidaklah seseorang mengingat mati melainkan akan membuat hatinya semakin lapang. Begitu pula dengan mengingat mati hati seseorang akan menjadi lembut. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menganjurkan kita untuk berziarah kuburan setelah sebelumnya beliau melarangnya. Beliau bersabada, ”Dulu saya melarang kalian ziarah kuburan, adapun sekarang ziarahilah karena itu bisa melembutkan hati, membuat mata menangis, mengingatkan akhirat... ”(HR. Hakim).
Dalam ziarah kubur, seorang muslim hendaknya menghadirkan kesadaran, mengambil pejajaran dari orang yang telah terbujur kaku dalam liang lahad itu. Hendaknya ia mengamati keadaan si mayit yang telah meninggalkan teman-teman sejawatnya, keluarganya tercinta, harta benda yang ditumpuknya. Saat ini teman sejawat dan kelaurga tercinta tak satu pun yang dapat menolongnya. Harta yang banyak tidak berguna lagi, bahkan mungkin menjadi rebutan ahli waris. Tidak ada yang bisa menyelamatkan simayit kecuali dirinya sendiri.
Begitulah seterusnya, semua perenungan itu akan membawa seorang muslim pada tiga faidah; penyegaran taubat, kelembutan hati, dan semangat menjalankan ibadah.sedangkan mereka yang melupakan kematian ia akan menunda-nunda taubat, tidak pernah puas dengan dunia, dan malas ibadah.
Masih banyak lagi sarana yang bisa menambah kekuatan iman kita, namun lima hal ini mendesak untuk dilakukan. Semuanya agar iman agar kita tetap fit. Wallahu ta’ala a’lam.
Hal-hal yang Melemahkan Iman
1. Menjauh Dari Suasana Keislaman dalam waktu yang lama
2. Enggan Mempelaajari Ilmu syar’i
3. Betah dengan lingkungan yang banyak maksiatnya.
4. Tenggelam dengan kesibukan duniawi sehingga hatinya jadi mati.
5. Berangan-angan yang serba muluk-muluk.
6. Berlebih-lebihan dalam makan, bicara, tidur, dan istirahat
7. Sibuk Mengurus Istri, harta, dan anak-anak